Beranda / Pengembangan Diri / Sistem Refleksi Diri / Hakekat Kehidupan dalam Islam

Hakekat Kehidupan dalam Islam

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kita akan kembali.

Kabar berpulangnya sahabat dan saudara kita, Ir. M. Sardjono L. Widodo, MM., menjadi pengingat yang begitu mendalam bahwa setiap makhluk yang bernyawa pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta. Kehilangan seseorang yang kita kenal, hormati, dan sayangi selalu menghadirkan kesedihan. Namun di balik kesedihan tersebut, tersimpan pelajaran berharga tentang hakikat kehidupan yang sering kali terlupakan di tengah berbagai kesibukan dunia.

Islam mengajarkan bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan sementara. Dunia bukanlah tujuan akhir, melainkan tempat bagi manusia untuk beribadah, beramal, dan mempersiapkan bekal menuju kehidupan yang kekal di akhirat. Karena itu, setiap manusia, tanpa memandang usia, kedudukan, maupun kekayaan, pada akhirnya akan menghadapi kematian sebagai bagian dari ketetapan Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

“Kullu nafsin dzā’ikatul maut”“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.”
(QS. Ali ‘Imran: 185)

Ayat ini mengingatkan bahwa kematian bukanlah sesuatu yang jauh dari kehidupan manusia. Sebaliknya, ia merupakan kepastian yang akan dialami oleh setiap orang. Oleh karena itu, setiap peristiwa wafatnya seorang kerabat, sahabat, maupun saudara hendaknya menjadi momentum untuk memperkuat keimanan, memperbanyak amal kebaikan, dan memperbaiki kualitas kehidupan yang sedang kita jalani.

Sebagai seorang muslim, doa terbaik yang dapat dipanjatkan untuk almarhum adalah memohon agar Allah SWT menerima iman dan Islam beliau, mengampuni segala dosa dan khilafnya, melapangkan alam kuburnya, serta menempatkannya di tempat yang mulia di sisi-Nya. Semoga setiap amal saleh yang telah beliau tinggalkan menjadi cahaya yang menerangi perjalanannya dan menjadi pemberat timbangan amal kebaikannya di akhirat kelak.

Dalam suasana duka, kehadiran untuk bertakziah merupakan bentuk penghormatan, kasih sayang, dan dukungan kepada keluarga yang ditinggalkan. Namun ketika keadaan belum memungkinkan untuk hadir secara langsung, doa yang tulus tetap menjadi hadiah yang sangat berharga. Meski saat ini saya masih berada di Swedia untuk menengok anak dan keluarga, hati dan doa kami senantiasa menyertai keluarga almarhum. Insya Allah, sepulang ke Indonesia nanti, kami akan bersilaturahmi secara langsung.

Secara pribadi, saya bersaksi bahwa almarhum adalah pribadi yang baik (*khair*), santun, rendah hati, dan senantiasa menjaga silaturahmi dengan sahabat-sahabatnya. Banyak perhatian, kebaikan, dan kenangan indah yang beliau tinggalkan selama hidupnya. Semua itu menjadi warisan akhlak yang akan terus hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah mengenal dan berinteraksi dengan beliau.

Kehilangan seorang sahabat yang baik tentu meninggalkan kesedihan yang mendalam. Meski demikian, seorang mukmin meyakini bahwa setiap takdir Allah SWT mengandung hikmah yang tidak selalu dapat dipahami secara langsung. Keyakinan inilah yang menguatkan hati untuk menerima ketetapan-Nya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.

Karena itu, yang dapat kita lakukan adalah terus mendoakan almarhum agar Allah SWT menerima seluruh amal kebaikannya, mengampuni segala kekhilafannya, serta menggantinya dengan tempat terbaik di sisi-Nya. Doa yang tulus merupakan bentuk kasih sayang yang tetap dapat diberikan meskipun seseorang telah meninggalkan dunia ini.

Kepada Mbak Kiki dan seluruh keluarga yang ditinggalkan, semoga Allah SWT menganugerahkan ketabahan, keikhlasan, dan kekuatan dalam menghadapi ujian ini. Semoga setiap musibah menjadi penghapus dosa, pengangkat derajat, serta sarana untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Peristiwa kematian juga menjadi cermin bagi kita semua untuk merenungkan perjalanan hidup masing-masing. Berapa banyak waktu yang telah digunakan untuk beramal saleh? Sudahkah kita mempersiapkan bekal terbaik untuk hari ketika kita pun dipanggil kembali kepada-Nya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut hendaknya mendorong kita untuk terus memperbaiki diri, memperbanyak amal kebajikan, menjaga hubungan dengan sesama, dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT.

Pada akhirnya, hakikat kehidupan dalam Islam adalah perjalanan menuju Allah SWT. Dunia hanyalah tempat singgah yang sementara, sedangkan akhirat adalah negeri yang kekal. Oleh sebab itu, setiap peristiwa kehilangan hendaknya menjadi pengingat agar kita semakin mendekat kepada-Nya dan mempersiapkan diri sebaik mungkin sebelum tiba saatnya kembali.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kepada kita kesempatan untuk mengisi kehidupan dengan amal-amal terbaik, menutup usia dalam keadaan husnul khatimah, serta mengumpulkan kita kembali bersama orang-orang saleh di surga-Nya.

Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Edition