Beranda / Kita dan Sekitar / Yang Hangus dan Yang Masih Kita Punya

Yang Hangus dan Yang Masih Kita Punya

Innalilahi wa inna ilahi rojiun. Saya mendapat kabar dari Surabaya—kabar yang membuat saya merasakan keprihatinan yang mendalam. Kakak saya, yang tinggal di sana bersama keluarganya, baru saja mengalami musibah. Bukan kecelakaan, bukan perampokan. Tapi api. Sebuah kebakaran yang melahap habis garasi khusus milik mereka. Tujuh mobil, semuanya hangus. Tak tersisa apa-apa kecuali kerangka logam dan abu yang menempel di lantai.

Garasi itu bukan hanya tempat menyimpan kendaraan, tapi juga simbol perjalanan hidup. Setiap mobil punya kisah. Ada yang dibeli saat proyek besar pertama berhasil. Ada yang biasa digunakan untuk mengantar anak ke sekolah setiap pagi. Semuanya punya nilai emosional, bukan sekadar nilai jual. Dan dalam satu malam, semuanya hilang begitu saja.

Namun ada yang jauh lebih besar dari apa yang terbakar: sikap kakak saya. Saat kami berbicara, suaranya tenang. “Yah… sudah milik api,” katanya pelan. Kalimat yang sederhana, tapi dalam. Saya tahu betul mobil-mobil itu bukan sekadar kendaraan baginya. Tapi di saat kehilangan datang, ia memilih menerima—bukan karena pasrah, tapi karena paham bahwa tidak semuanya bisa digenggam selamanya.

Peristiwa ini membuat saya berpikir lebih jauh. Kita, di dunia profesional dan kehidupan sehari-hari, sering mengejar banyak hal—materi, status, pencapaian. Semua itu sah-sah saja. Tapi kita jarang mempersiapkan diri untuk kemungkinan kehilangannya. Padahal, kehidupan tidak menjanjikan kepemilikan yang abadi. Dan dalam banyak kasus, justru kehilanganlah yang membawa kita kembali pada esensi: apa yang benar-benar penting?

Apa yang kita punya bisa hangus, lenyap, atau hilang. Tapi cara kita memaknai kehilangan, dan cara kita bangkit setelahnya—itulah pelajaran besarnya.

Kakak saya dan keluarganya baik-baik saja. Mereka sedang membenahi yang bisa diperbaiki. Di tengah abu, mereka masih punya banyak hal: satu sama lain, ketenangan hati, dan pelajaran yang tak terbakar oleh api.

Dari kejadian ini, saya belajar bahwa nilai hidup tidak diukur dari seberapa banyak yang kita miliki, melainkan dari seberapa bijak kita menerima saat semuanya harus dilepaskan.

Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang mempertahankan segalanya, tapi tentang mensyukuri yang tersisa dan menjadikannya cukup. Dan justru dari sanalah, ketenangan dan kekuatan itu lahir.


 

Catatan Redaksi:

Kolom Kita dan Sekitar adalah ruang reflektif di BChannels News, yang mengangkat kisah sosial dari pengalaman nyata untuk jadi cermin dan pelajaran bagi kita semua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *