Pendahuluan
Sejak kematian Steve Jobs pada 2011, kisah tentang dirinya terus tumbuh menjadi semacam mitos. Jobs adalah pendiri dan mantan kepala eksekutif Apple yang wafat di usia 56 tahun setelah delapan tahun berjuang melawan kanker pankreas. Ia dipuja sebagai sosok jenius yang mampu “berpikir berbeda” (think different), tetapi tragedi hidupnya justru terletak pada kontradiksi: antara kejeniusannya yang luar biasa dengan keangkuhan yang sering kali merugikan dirinya dan orang lain.
Empat tahun setelah kepergiannya, dua film—drama Steve Jobs garapan Danny Boyle dan dokumenter Steve Jobs: Man in the Machine karya Alex Gibney—hadir dengan narasi yang jauh dari citra yang ia bangun sendiri, memperlihatkan sisi-sisi gelap dan kompleks yang jarang diungkap.
Kontradiksi Karakter dan Etika Steve Jobs
Kepribadian Jobs penuh paradoks. Ia dikenal dengan sifat keras kepala yang nyaris angkuh, yang bukan hanya membentuk Apple, tetapi juga mewarnai cara ia mengambil keputusan hidup-mati, serta hubungannya dengan orang-orang terdekat.
Kontrol Penuh hingga Kematian
Jobs adalah seorang pengendali sejati. Ia ingin memastikan setiap detail—termasuk warisan hidupnya—berada dalam genggamannya. Ia menunjuk Walter Isaacson sebagai penulis biografi resmi, sebagian karena Isaacson juga menulis tentang Einstein, tokoh yang ia kagumi. Jobs bahkan mengatur wawancara panjang dan memilih foto sampul buku, seolah berusaha menyetir narasi yang akan hidup setelah ia mati.
Namun, obsesi kontrol ini berbalik menghantam dirinya sendiri saat menghadapi penyakit. Ia menunda operasi kanker pankreas selama sembilan bulan, lebih memilih terapi alternatif dan konsultasi dengan paranormal. Ketika akhirnya setuju dioperasi, waktunya sudah terlambat.
Bagi Jobs, kematian mungkin hanya sesederhana “klik sakelar on/off.” Pandangan inilah yang membuatnya tidak suka memberi tombol on/off pada perangkat Apple—seolah ingin menghapus gagasan finalitas.
Karisma Menggoda dan Kekejaman Pribadi
Jobs memiliki daya tarik luar biasa, tetapi juga reputasi sebagai sosok yang kejam pada orang-orang terdekatnya.
Ia menolak mengakui putrinya, Lisa, selama bertahun-tahun meski tes DNA menyatakan sebaliknya. Hubungannya dengan Chrisann Brennan, ibu Lisa, penuh konflik dan digambarkan sebagai “aneh kejam.” Rekan kerja pun tidak luput: Bob Belleville, kepala tim Macintosh pertama, masih trauma dan menangis saat mengenang masa itu. Daniel Kottke, sahabat lama sekaligus karyawan awal Apple, juga merasa dikhianati karena tidak diberi opsi saham.
Meski begitu, beberapa orang seperti Sir Jonathan Ive melihatnya berbeda: sifat tanpa kompromi Jobs—meski kadang membuatnya tampak seperti “orang brengsek”—justru alasan mengapa Apple mampu melahirkan produk ikonik.
Kontradiksi Etika Finansial dan Spiritual
Jobs sering menampilkan dirinya sebagai figur spiritual: hidup sederhana, vegan, berkacamata bulat, dan bergaul dengan biksu Zen Kobun Chino. Namun, di balik citra itu, ia dan Apple tetap sangat terikat pada uang.
Apple terlibat dalam praktik penghindaran pajak, manipulasi opsi saham, dan mengabaikan kondisi kerja di pabrik Tiongkok. Jobs sendiri peduli pada uang bukan untuk belanja mewah, melainkan untuk “menjaga skor” dan memvalidasi dirinya. Walaupun sangat kaya, ia hampir tidak pernah menyumbang, bahkan menuntut Apple membelikannya jet pribadi seharga $45 juta lengkap dengan biaya pajaknya.
Filosofi Spiritual vs. Realitas Material Apple
Jobs ingin dipandang sebagai pertapa modern: vegetarian, pengagum Zen, berpakaian sederhana. Ia meyakini bahwa menjadi miliarder sekaligus bisa menjadi perjalanan spiritual.
Pencerahan yang Terselip Teknologi
Bagi Jobs, teknologi adalah bentuk seni dan wahyu. Pada usia 18 tahun, ia mengaku merasa tercerahkan kepada Kobun Chino, dan saat diminta bukti, ia menunjukkan papan sirkuit Apple pertama. Baginya, ciptaan itu adalah titik temu antara seni dan teknologi. Bahkan, saat memorialnya di Stanford, setiap tamu mendapat buku Autobiography of a Yogi, teks spiritual favoritnya.
Retakan dalam Citra Zen
Namun, dokumenter Gibney menyingkap realitas berbeda. Apple terlibat dalam praktik penghindaran pajak dan mengabaikan kondisi kerja buruh di Tiongkok. Jobs sangat peduli pada uang sebagai ukuran validasi diri, bukan sekadar alat tukar.
Meski punya kekayaan besar, ia jarang berderma. Kisah tentang jet pribadi yang diminta dari Apple menjadi contoh jelas: ia ingin fasilitas penuh, bukan sekadar pinjaman.
Jobs adalah pendongeng ulung yang membuat konsumen percaya produknya adalah perpanjangan diri mereka. Tapi di balik citra spiritual, ia tetap terdorong oleh kebutuhan akan kontrol dan pengakuan.
Warisan dan Dampak Apple di Budaya Global
Jobs tidak hanya membangun Apple; ia membentuk budaya global. Apple menjadi simbol kebebasan kreatif sekaligus korporasi dengan kekuatan luar biasa.
Dari Pemberontakan ke Dominasi
Apple berawal sebagai simbol perlawanan terhadap komputer besar yang kaku. Jobs menyebut seniman dan kreatif sebagai “kuda Troya” yang membawa Apple masuk ke budaya.
Film Steve Jobs bahkan memvisualisasikan transisi ini: dari nuansa hacker homemade (film 16mm), menuju ambisi besar (35mm), hingga dominasi korporat penuh warna dalam HD digital—dengan catatan bahwa idealisme awal seakan hilang.
Mitos Kultus dan Evangelisme
Peluncuran produk Apple terasa seperti ritual. Jobs tampil bak nabi membawa “tablet” baru—Macintosh, NeXT, iMac—sebagai bentuk “penginjilan.” Filosofinya sederhana: percaya untuk tercerahkan.
Produk Apple dipandang memiliki “sihir sederhana” dan memberi rasa pemberontakan terhadap teknologi yang dingin dan tak berjiwa.
Jobs sebagai Figur Paternal
Alex Gibney bertanya: mengapa kematian Jobs begitu mengguncang? Jawabannya: karena bagi banyak orang, Jobs adalah figur ayah dalam perjalanan digital mereka. Ia menghapus batas manusia dan alat, sehingga ketika ia meninggal, orang merasa “sebagian dari diri mereka ikut mati.”
Kritik atas Dominasi Korporat
Boyle dan Gibney menyoroti sisi gelap Apple:
-
Perusahaan teknologi kini menggantikan bank dan minyak sebagai target kritik, meski citranya masih positif.
-
Regulasi tidak cukup kuat untuk melawan mereka.
-
Apple dituding melemahkan jurnalisme dengan merebut sumber pendapatannya.
-
Jobs pandai memainkan peran korban: mengkritik Apple berarti mengkritik para penggunanya sendiri.
Produk Apple mewarisi ilusi vitalitas, seolah menyimpan jiwa Jobs. Ia hidup dalam mesin-mesin itu, meski warisannya penuh kontradiksi.
Penutup: Keabadian dalam Kontradiksi
Steve Jobs meninggalkan warisan yang lebih besar dari sekadar perusahaan teknologi. Ia adalah sosok penuh paradoks: seorang visioner yang menyatukan seni dan teknologi, tapi juga manusia dengan keangkuhan yang melukai orang lain. Ia memproyeksikan citra spiritual ala biksu Zen, tetapi terikat erat pada uang dan kekuasaan.
Apple, sebagai perwujudan visinya, mencerminkan kontradiksi itu. Dari simbol pemberontakan kreatif menjadi korporasi raksasa, dari alat teknologi menjadi bagian identitas pribadi. Produk-produknya memberi ilusi jiwa, membuat pengguna merasa kehilangan diri mereka ketika Jobs meninggal.
Pada akhirnya, Jobs mencapai apa yang ia cari: keabadian digital. Ia hadir setiap hari lewat perangkat miliaran orang. Namun, keabadian itu datang dengan harga: perdebatan abadi tentang etika, kekuasaan, dan dampak budaya yang ia tinggalkan.
Jobs dikenang bukan hanya karena apa yang ia ciptakan, tetapi juga karena kontradiksi yang membentuknya—kisah manusia yang brilian, rapuh, dan penuh konflik, yang justru membuatnya semakin relevan di mata dunia.
