Refleksi Pribadi: Lima Perkara Sebelum Lima Perkara

Khazanah

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Segala puji bagi Allah SWT yang senantiasa memberikan nikmat yang sering kali luput dari kesadaran saya: waktu, kesehatan, kesempatan, dan kehidupan. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah SAW, panutan agung yang menuntun kita menuju cahaya.

Saat Saya Tersadar oleh Sebuah Hadis

Saya masih ingat betul, suatu malam setelah salat Isya, saya membuka buku kecil kumpulan hadis. Di antara halaman-halaman yang pernah saya lewatkan, mata saya tertumbuk pada satu nasihat Nabi yang membuat saya terdiam lama:

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum sakitmu, masa kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.”. (HR. al-Hakim)

Awalnya, saya hanya membacanya sekilas. Tapi kalimat itu seperti menancap di hati. Lima perkara yang terasa begitu dekat, tapi sering saya abaikan. Sejak malam itu, saya merenungi: bagaimana saya memanfaatkan hidup saya selama ini?

1. Masa Muda Sebelum Tua: Apa yang Saya Lakukan Saat Kuat?

Di masa muda, saya memiliki tenaga, ide-ide, dan semangat besar. Tapi, betapa sering saya menunda amal, menunda belajar agama, bahkan menunda untuk sekadar menghafal satu surat pendek. Saya pikir masa muda akan panjang. Ternyata, ia cepat berlalu.

Saya teringat sebuah hadis lain:

“Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ditanya tentang… masa mudanya, untuk apa ia habiskan.” (HR. Tirmidzi)

Kini, saya mulai menyesal atas waktu-waktu yang hilang. Tapi penyesalan itu saya ubah menjadi dorongan untuk mulai—meski terlambat—mengisi sisa masa muda ini dengan sesuatu yang bermakna.

2. Sehat Sebelum Sakit: Kesehatan Itu Ternyata Mahal

Pernah suatu ketika saya sakit selama dua minggu. Shalat menjadi sulit, membaca Al-Qur’an pun berat. Baru saya sadari, sehat adalah nikmat luar biasa. Namun sering kali saya tidak mensyukurinya, tidak menggunakannya untuk mendekat kepada Allah.

Nabi SAW bersabda:

“Dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu karenanya: nikmat sehat dan waktu luang.”. (HR. Bukhari)

Setelah pulih, saya mulai menata ulang: selagi tubuh ini mampu berdiri, kenapa tidak dipakai untuk qiyamul lail? Selagi jari bisa mengetik, kenapa tidak ditulis pesan dakwah?

3. Kaya Sebelum Miskin: Saatnya Menanam Amal

Tidak perlu menjadi miliarder untuk merasa cukup. Saya pernah berada di titik lapang, di mana gaji lancar dan penghasilan ada lebih. Tapi sayangnya, seringkali saya belanjakan untuk hal yang tidak saya butuhkan.

Baru setelah saya mengalami fase sempit, saya menyadari bahwa kekayaan adalah alat. Dan alat itu bisa saya gunakan untuk membangun amal jariyah.

“Sebaik-baik harta adalah yang berada di tangan orang saleh.”. (HR. Ahmad)

Sekarang saya berusaha untuk menyisihkan sebagian rezeki setiap bulan. Untuk sedekah, untuk infak ke masjid, atau membantu saudara yang kesusahan. Bukan karena saya punya lebih, tapi karena saya takut nanti tak sempat memberi.

4. Waktu Luang Sebelum Sibuk: Manajemen Waktu Adalah Manajemen Iman

Dulu saya sering berkata, “Nanti saja kalau sudah longgar.” Tapi ternyata kesibukan itu tidak akan pernah habis. Pekerjaan datang silih berganti. Tugas keluarga, urusan sosial, semua berebut waktu.

Allah SWT mengingatkan:

“Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (dalam urusan lain). Dan hanya kepada Tuhanmu, berharaplah.”.  (QS. Al-Insyirah: 7–8)

Saya mulai menulis jadwal harian, menaruh prioritas untuk ngaji dan belajar agama. Bahkan 15 menit sehari membaca tafsir pun terasa sangat berarti. Saya sadari, waktu luang bukan harus dicari, tapi harus disiapkan.

5. Hidup Sebelum Mati: Semua Terlambat Saat Ajal Tiba

Kematian itu pasti. Tapi seringkali terasa jauh. Saya pernah kehilangan sahabat yang masih muda, sehat, dan penuh rencana. Ia berpulang begitu cepat, tanpa tanda. Di situlah saya sadar, hidup ini hanya sejenak.

“Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya ia akan menemui kamu…”.   (QS. Al-Jumu’ah: 8)

Sejak saat itu, saya mulai menulis surat wasiat, memperbaiki hubungan dengan keluarga, dan menjaga lisan dari menyakiti. Saya tidak tahu kapan akhir hidup saya, tapi saya ingin pergi dalam keadaan siap.

Penutup: Hadis Ini Adalah Cermin Hidup Saya

Hadis ini bukan sekadar nasihat Nabi. Ia adalah peringatan halus tapi mendalam. Ketika saya membacanya, saya seperti melihat perjalanan hidup saya yang begitu banyak tunda, abai, dan lalai.

Namun, bukan berarti semuanya terlambat. Justru inilah panggilan untuk mulai. Sekarang juga.

Saya mengajak saudara-saudari seiman, mari kita manfaatkan:

  • Muda sebelum tua, untuk membangun amal
  • Sehat sebelum sakit, untuk memperbanyak ibadah
  • Kaya sebelum miskin, untuk menyuburkan sedekah
  • Luang sebelum sibuk, untuk mengisi jiwa dengan ilmu
  • Hidup sebelum mati, untuk menyiapkan pulang kepada-Nya

Doa Penutup

“Ya Allah, jangan biarkan kami tertipu oleh waktu dan kelalaian. Bukakan kesadaran kami untuk mengisi sisa hidup ini dengan amal terbaik. Anugerahkan kami keberkahan dalam masa muda, kesehatan, kekayaan, waktu, dan hidup. Jadikan kami termasuk hamba-Mu yang bersiap sebelum terlambat. Aamiin.”

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *