Pulang dan Pergi: Hikmah Seorang Ayah Saat Melepas Anak-anak dan Cucu ke Negeri Jauh

Hikmah Kehidupan

Hari ini, rumah kami kembali sunyi. Anak-anak sulung saya bersama cucu pertama kami kembali ke Austin, Amerika Serikat, setelah satu setengah bulan penuh kebersamaan. Momen kepergian ini membangkitkan begitu banyak rasa: bahagia, bangga, haru, dan tentu, kesedihan yang tertahan.

Yang istimewa dari kunjungan mereka kali ini adalah ketulusannya. Mereka pulang bukan karena perayaan, bukan karena acara keluarga besar. Tidak ada pernikahan, tidak ada reuni, tidak ada agenda formal. Mereka pulang karena ingin pulang — dan itulah alasan paling indah untuk sebuah kebersamaan.

Bahagia yang Tidak Bisa Diukur

Kebersamaan selama 1,5 bulan itu seperti oase dalam padang kesibukan. Rumah kami kembali hidup. Ada suara tawa cucu, obrolan santai antara generasi, aroma makanan rumahan yang dinikmati bersama, serta shalat berjamaah yang terasa lebih utuh.

Dan di minggu pertama mereka di Jakarta, kami menerima kabar bahagia lain: kami akan segera memiliki cucu keempat — sebuah karunia yang datang setelah delapan tahun menanti. Kebahagiaan ini menjadi pengingat betapa Allah tak pernah tidur dalam mencurahkan nikmat-Nya.

Di momen itu, saya merasa sangat bersyukur sebagai seorang ayah dan kakek. Kehadiran anak dan cucu bukan hanya pelipur lara, tetapi juga penguat jiwa. Bahwa dalam dunia yang berubah cepat, keluarga tetap menjadi rumah spiritual yang tak pernah lekang oleh waktu.

Ketika Perpisahan Harus Tiba

Namun, seperti semua hal indah di dunia, momen kebersamaan itu pun berakhir. Mereka harus kembali ke kehidupan mereka — pekerjaan, sekolah anak-anak, tanggung jawab di negeri seberang. Dan kami harus kembali menjalani hari-hari tanpa kehadiran mereka secara fisik.

Kesedihan itu wajar. Tapi yang lebih penting adalah bagaimana kami memaknai perpisahan ini bukan sebagai kehilangan, melainkan sebagai kelanjutan dari cinta yang tidak terputus oleh jarak. Anak-anak kami boleh berada ribuan kilometer jauhnya, tapi hati kami tetap terhubung — oleh doa, oleh kenangan, dan oleh kasih yang tidak pernah pudar.

Rasa Bangga Seorang Ayah

Saya bangga melihat anak-anak saya berhasil menjalani hidup di negeri orang. Mereka tak hanya bertahan, tapi juga tumbuh, berkembang, dan memberi manfaat di tempat mereka tinggal. Mereka mandiri secara finansial, kuat dalam menghadapi tantangan budaya, namun tetap membawa nilai-nilai keluarga dan iman yang kami tanamkan sejak kecil.

Kebanggaan ini bukan semata-mata karena prestasi, tapi karena mereka tetap menjadi pribadi yang rendah hati, hormat pada orang tua, dan tidak melupakan akar spiritual mereka.

Pesan Ayah: Jangan Tinggalkan Shalat

Anak-anakku, cucu-cucuku kelak — jika ada satu hal yang ingin ayah titipkan sebagai bekal hidup kalian, itu adalah shalat. Jangan pernah tinggalkan shalat, di mana pun kalian berada. Shalat adalah jembatan yang menghubungkan kita dengan Allah. Ia adalah pengingat, pelindung, dan sumber kekuatan di tengah dunia yang penuh tantangan.

Ingatlah, shalat adalah amal pertama yang akan dihisab di hari akhir. Jika ia baik, maka baik pula seluruh amal lainnya. Jadikan shalat sebagai titik temu kalian dengan Tuhan, bukan sebagai rutinitas kosong, tetapi sebagai perjumpaan penuh makna. Jadilah anak- anak sholeh yang selalu mendoakan mama dan ayah disetiap sholatmu.

Lebih dari Sekadar Pintar: Jadilah Bijak

Saya tahu kalian tumbuh dalam zaman yang menuntut kecerdasan. Namun, ingatlah: orang pintar belum tentu bijak. Carilah ilmu, kejarlah pendidikan, tetapi jangan berhenti di sana. Jadilah pribadi yang mampu mengambil hikmah dari setiap pengalaman. Jadilah orang yang lembut hati, sabar, pemaaf, dan punya kesadaran spiritual yang mendalam.

Bijak bukan berarti sempurna. Bijak berarti sadar bahwa setiap keputusan membawa dampak, setiap kata bisa menjadi doa, dan setiap perbuatan mencerminkan nilai hidup kita.

Doa yang Tak Pernah Putus

Kalian mungkin tidak lagi tinggal serumah dengan kami. Tapi dalam setiap sujud kami, kalian selalu ada. Kami mendoakan kalian agar selalu sehat, selamat, dan sukses. Kami berdoa agar rumah tangga kalian harmonis, anak-anak kalian tumbuh dalam kasih sayang dan iman, serta agar kalian selalu berada dalam lindungan Allah, di mana pun berada.

Doa ini adalah warisan yang kami terus kirimkan, meski tak kasat mata. Kami tidak bisa lagi menjaga kalian secara langsung, tapi Allah bisa — dan kami memohon kepada-Nya siang dan malam agar Dia yang menjagakan kalian.

Mencari Hikmah dalam Setiap Perjalanan

Dari pertemuan dan perpisahan ini, kami belajar kembali bahwa hidup adalah rangkaian momen yang sarat makna. Tidak semua harus dirayakan secara besar-besaran. Kadang, kehadiran yang sederhana justru menjadi yang paling berkesan.

Yang penting bukan berapa lama kita bersama, tapi seberapa dalam kita menghidupkan momen itu. Bukan seberapa mewah pertemuannya, tapi seberapa tulus kita saling memeluk, memaafkan, dan mendoakan.

Penutup: Semoga Hikmah Ini Jadi Warisan

Anak-anakku, cucu-cucuku, dan siapa pun yang membaca tulisan ini — semoga catatan sederhana ini bisa menjadi pengingat. Bahwa dalam kehidupan modern yang sibuk, jangan lupakan esensi: keluarga, iman, dan hikmah.

Hiduplah bukan sekadar untuk berhasil, tetapi untuk bermakna. Jadilah pribadi yang tidak hanya mengumpulkan gelar, tetapi juga menanam kebaikan. Karena pada akhirnya, bukan prestasi yang kita bawa ke akhirat — tapi amal, akhlak, dan cinta yang kita tebarkan di dunia.

[Penulis adalah seorang ayah dan kakek yang tinggal di Jakarta. Ia menulis untuk mengabadikan momen dan hikmah dari perjalanannya sebagai orang tua dan manusia.]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *