1. Pendahuluan
Profesi insinyur sipil berada di garis depan pembangunan peradaban. Di era disrupsi, tuntutan terhadap profesionalisme, adaptabilitas teknologi, dan kontribusi strategis insinyur sipil kian kompleks. Dalam konteks ini, pembentukan Hermanto Dardak & Ahmad Qoyum Center of Excellence (DQ CoE) oleh BKS PII bukan sekadar institusi, melainkan inisiatif strategis untuk menjawab tantangan penguatan karakter dan kompetensi insinyur Indonesia. DQ CoE mengemban peran bukan hanya sebagai Center of Excellence (CoE), namun juga sebagai Center of Facilitation (CoF) dan Center of Information (CoI), menjadikannya simpul utama profesionalisasi teknik sipil nasional.
2. Urgensi Penguatan DQ CoE
DQ CoE hadir sebagai respon atas fragmentasi upaya penguatan profesi teknik sipil, yang kerap terjebak dalam pendekatan sektoral dan reaktif. Dinamika teknologi, globalisasi standar kompetensi, dan kebutuhan akan kepemimpinan teknik sipil menuntut adanya simpul koordinasi nasional. Tanpa integrasi, pengembangan kompetensi dan karakter akan terpecah, menghambat daya saing global.
3. Peran Strategis DQ CoE
a. Sebagai Center of Excellence (CoE)
DQ CoE menjadi pusat unggulan yang membangun peta jalan kompetensi teknik sipil Indonesia. Fungsinya meliputi:
- Perancangan kurikulum pelatihan dan sertifikasi berbasis SKKNI/KKNI.
- Pengembangan metodologi pembelajaran interaktif, berbasis kasus dan proyek nyata.
- Kemitraan pelatihan dengan LSP, industri, dan universitas.
b. Sebagai Center of Facilitation (CoF)
Peran fasilitatif dijalankan dengan:
- Mendorong kolaborasi lintas asosiasi keahlian teknik sipil.
- Memfasilitasi forum harmonisasi kurikulum dan praktik profesional.
- Menjadi rumah kaderisasi pemimpin muda insinyur sipil.
c. Sebagai Center of Information (CoI)
Pengelolaan basis pengetahuan teknik sipil dilakukan melalui:
- Digital Knowledge Hub berbasis Notion dan open access.
- Dokumentasi praktik baik, riset, dan kebijakan publik.
- Visualisasi data teknis, tren industri, dan rekam jejak insinyur.
4. Enam Pilar Strategis Penguatan Profesi
Penguatan DQ CoE sejalan dengan roadmap strategis BKS PII 2025–2028, yang dirumuskan dalam enam pilar utama:
- Penguatan Kompetensi dan Sertifikasi
- Sertifikasi berbasis standar nasional.
- Modul pelatihan terintegrasi.
- Pengakuan lintas sektor dan internasional.
- Pusat Inovasi, Riset, dan Digitalisasi
- Digital hub sebagai pusat data keinsinyuran.
- Riset kolaboratif universitas–industri.
- Pengembangan teknologi tepat guna.
- Harmonisasi Asosiasi Keahlian
- Forum koordinasi rutin antar asosiasi spesialisasi.
- Pemetaan dan penyelarasan standar keahlian.
- Integrasi dengan ASEAN Engineers Registry.
- Advokasi Kebijakan dan Regulasi Profesi
- Penyusunan policy brief berbasis data.
- Keterlibatan dalam perumusan regulasi teknis.
- Membangun citra insinyur sebagai teknokrat pembangunan.
- Kolaborasi dan Kemitraan Strategis
- MoU dan MoC dengan institusi domestik & global.
- Forum bisnis keinsinyuran dan pertukaran ahli.
- Proyek kolaboratif lintas sektor.
- Regenerasi dan Transformasi Organisasi
- Program kaderisasi kepemimpinan teknik sipil.
- Sistem mentor-mentee berbasis pengalaman profesional.
- Warisan nilai, etika, dan visi peradaban teknik sipil.

5. Sinergi HQ CoE dengan Ekosistem Profesi
DQ CoE bukan entitas terpisah, tetapi simpul integratif. Kolaborasinya mencakup:
- Asosiasi Profesi: menjadi ruang sinergi antar keahlian.
- Akademisi: sebagai sumber pembaruan pengetahuan dan riset.
- Pemerintah: sebagai mitra advokasi dan regulator kebijakan.
- Industri: sebagai pengguna akhir kompetensi teknik sipil.
6. Mewujudkan Estafet Peradaban Teknik Sipil
Penamaan Hermanto Dardak & Ahmad Qoyum CoE memiliki makna filosofis. Hermanto Dardak dikenal sebagai teknokrat pembangunan, sedangkan Ahmad Qoyum sebagai pendidik dan inovator. DQ CoE menghidupkan semangat mereka dalam upaya membangun ekosistem teknik sipil yang beretika, inovatif, dan kolaboratif.
Estafet ini bukan sekadar melanjutkan kiprah, tetapi menciptakan loncatan peradaban teknik sipil Indonesia di masa depan.
7. Rekomendasi Kebijakan untuk Pembina dan Pengarah BKS PII
- Pengesahan Peran DQ CoE secara Formal dalam Struktur Organisasi.
- Alokasi Dukungan Dana Strategis untuk Program CoE, CoF, dan CoI.
- Penyusunan Kebijakan Harmonisasi Asosiasi Teknik Sipil di bawah koordinasi BKS PII.
- Fasilitasi kemitraan internasional berbasis platform DQ CoE.
- Penetapan DQ CoE sebagai think-tank strategis teknik sipil nasional.
8. Penutup: Pilar Keunggulan, Karakter, dan Kolaborasi
DQ CoE bukan hanya pusat pelatihan—ia adalah pusat karakter, kolaborasi, dan pengelolaan pengetahuan teknik sipil. Di tengah tantangan global, lembaga ini menjadi garda terdepan dalam merumuskan arah baru keinsinyuran Indonesia. Dengan enam pilar strategi dan peran integratif sebagai CoE–CoF–CoI, DQ CoE akan menjadi kekuatan utama dalam membangun peradaban teknik sipil Indonesia yang profesional, adaptif, dan berdampak global.
