dr. Ferdy Ferdian, Sp.PD – Dokter Spesialis Penyakit Dalam yang memberikan edukasi terapi modern untuk pasien diabetes

Catatan Pembelajar: Mengelola Diabetes

Catatan Pembelajar

“Menjadi Mandiri dalam Mengelola Diabetes: Belajar dari dr. Ferdy Ferdian, Sp.PD”

“Diabetes bukan hanya angka. Ini tentang risiko, ritme tubuh, dan keputusan cerdas setiap hari.”
— dr. Ferdy Ferdian, Sp.PD

1. Paradigma Baru dalam Mengelola Diabetes

Banyak pasien diabetes, termasuk saya sendiri, pernah merasa bahwa keberhasilan terapi bergantung sepenuhnya pada angka gula darah. Namun, konsultasi dengan dr. Ferdy Ferdian mengubah cara pandang saya secara mendalam. Beliau menekankan bahwa tujuan terapi diabetes bukan sekadar “menurunkan angka”, tapi mengurangi risiko jangka panjang.

Fokus bukan hanya glukosa

  • Mencegah kerusakan jantung dan pembuluh darah
  • Menjaga ginjal tetap berfungsi baik
  • Mengurangi risiko stroke dan amputasi

“It’s not just about the number. It’s about the risk.” – dr. Ferdy

Perubahan terapi: dari insulin ke obat oral

Saya semula menggunakan insulin bolus dan basal. Namun, setelah kondisi membaik, dr. Ferdy memperkenalkan pendekatan baru menggunakan SGLT2 inhibitor (seperti Jardiance). Obat ini juga memberikan perlindungan terhadap jantung dan ginjal serta tidak menyebabkan hipoglikemia.

Walau harganya relatif mahal dan belum tersedia versi generik hingga 2035, dr. Ferdy menjelaskan bahwa efisiensi jangka panjangnya tinggi, terutama jika digunakan dengan tepat sasaran.

2. Rencana Terapi yang Dipersonalisasi

Tidak semua tubuh merespons terapi dengan cara yang sama. Oleh karena itu, terapi disesuaikan bertahap berdasarkan kondisi masing-masing pasien.

Penyesuaian Dosis dan Kombinasi

Contohnya, dosis Kandesartan diturunkan dari 16 mg ke 8 mg karena tekanan darah stabil. Insulin pun diganti Glimepirid 10 mg secara bertahap dan terus dipantau.

“Kalau kita lepas langsung, bisa rebound. Jadi kita turunkan pelan-pelan.” – dr. Ferdy

Observasi luka dan kuku kaki

Saya juga mengeluhkan cantengan dan perubahan kuku, dan ternyata ini bukan hal sepele. Menurut dr. Ferdy, gejala ini bisa menunjukkan gangguan mikrosirkulasi darah, yang umum pada penderita diabetes.

Ciri-ciri yang harus diwaspadai:

  • Kuku berubah warna
  • Pertumbuhan tidak simetris
  • Luka lama sembuh

Ia menyarankan pemantauan rutin dan tindakan segera jika kondisi memburuk.

3. Kemandirian Pasien: Logbook, Makan, dan Gerak

Salah satu hal yang paling membekas dari edukasi dr. Ferdy adalah mendorong saya untuk menjadi aktor utama dalam mengelola penyakit ini.

“Kalau kamu bisa catat dengan detail, saya bisa bantu dengan lebih tepat. Kita belajar dari pola kamu sendiri.”

Logbook sebagai alat utama

Saya mencatat:

  • Jenis dan dosis terapi
  • Jam dan jenis makan
  • Aktivitas fisik
  • Gula darah sebelum dan sesudah makan

Saya menggunakan Notion sebagai logbook digital. Kolomnya fleksibel dan bisa menampilkan grafik tren harian.

Pola makan seimbang

dr. Ferdy menganjurkan:

  • Karbo kompleks: havermut, nasi merah
  • Buah glikemik rendah: apel hijau, pir, bengkuang
  • Snack sehat: tahu, tempe, telur

Jarak antar makan dijaga: Makan utama jam 7, 12, 18 — snack jam 10 dan 15. Ini mencegah hipoglikemia.

Aktivitas fisik harian

Target saya saat ini:

  • 30 menit aktivitas sedang, 5 hari/minggu
  • Jalan kaki 6.000–10.000 langkah
  • Bersepeda atau treadmill ringan

dr. Ferdy menyebut: “Yang penting bukan intensitasnya dulu, tapi konsistensinya.”

4. Pencegahan, Refleksi, dan Kepercayaan Diri

Poin penting yang sering dilupakan pasien adalah: pencegahan dan refleksi. Diabetes adalah penyakit jangka panjang, sehingga edukasi dan pemantauan perlu dilakukan terus menerus.

Monitoring rutin

  • Cek tekanan darah mingguan
  • EKG bila irama jantung tak teratur
  • Vaksinasi influenza dan pneumokokus

Kesadaran tubuh pribadi

dr. Ferdy mengajak pasien untuk lebih mendengarkan tubuh sendiri:

  • Apakah mudah lelah?
  • Apakah sering kencing?
  • Apakah cepat lapar atau kenyang?

“Kamu yang paling tahu badanmu. Saya hanya bantu membacakan datanya.” – dr. Ferdy

Penutup

Pengalaman ini mengubah cara saya memandang diabetes. Bukan sekadar penyakit, tapi medan belajar. Saya percaya dengan edukasi dan keterlibatan aktif, kualitas hidup bisa tetap tinggi meski hidup dengan diabetes.

Saya belajar:

  • Bahwa terapi adalah kerja sama

  • Bahwa pencatatan adalah kekuatan

  • Dan bahwa tubuh saya bisa diajak berdamai

Dengan edukasi yang benar dan keterlibatan aktif, saya percaya setiap pasien bisa hidup berkualitas meski dengan diabetes.

Referensi

  • Konsultasi langsung bersama dr. Ferdy Ferdian, Sp.PD
  • Observasi klinis di RS Muhammadiyah Bandung
  • Guidelines ADA & PERKENI (2023)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *