Solo, Lebaran 2025 — Di sebuah rumah tertata rapih dan hangat di sudut kota Solo, suasana penuh tawa dan keakraban menyelimuti ruang tamu tempat kami bersilaturahmi. Bukan sekadar temu kangen, kunjungan ini menjadi momen yang kaya akan pelajaran, terutama bagi kami yang pernah bekerja di bawah bimbingan beliau. Sosok yang kami kunjungi adalah Pak Grahito, mantan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian PUPR, seorang tokoh yang disegani sekaligus menjadi sumber inspirasi.
Obrolan yang Membuka Kenangan
Kami disambut dengan tangan terbuka oleh Pak Grahito, seperti biasa dengan senyum hangatnya. Di antara kue lebaran, cerita demi cerita pun mengalir. Salah satu topik yang mencuat dan menggugah adalah ketika beliau menceritakan kembali pengalaman lapangan pada proyek pembangunan bendungan tahun 2008.
“Waktu itu, kami dapat proyek kecil untuk melindungi badan sungai. Tapi ternyata desainnya salah. Pakai sistem perlindungan yang mestinya untuk bendungan, bukan untuk sungai,” tutur beliau sambil mengenang. Kesalahan tersebut menyebabkan kerusakan besar ketika hujan datang. Namun yang menarik bukan hanya kegagalannya, melainkan bagaimana beliau dan tim menyikapinya.
Alih-alih mencari kambing hitam, Pak Grahito justru mengutamakan tindakan cepat dan kerja sama. “Langsung kita evaluasi, desain segera dikoreksi, lalu kerja ulang. Jangan tunggu polemik, selesaikan di lapangan dulu,” ucapnya tegas.
Filosofi ‘Langsung Koreksi’
Salah satu hal yang terus beliau tekankan dalam diskusi kami adalah pentingnya bertindak cepat ketika terjadi kesalahan. Dalam istilah khas beliau: “Kalau ada yang salah, langsung bongkar dan perbaiki.”
Filosofi ini mencerminkan gaya kepemimpinan yang tegas, solutif, dan bertanggung jawab. Menurutnya, kerusakan dalam proyek adalah bagian dari risiko yang bisa terjadi. Tapi yang tidak boleh terjadi adalah pengabaian dan pembiaran.
“Kalau ada yang rusak, jangan ditutupi. Segera dikoreksi! Bikin ulang, dan kali ini harus lebih baik.”
Sikap ini menunjukkan komitmen terhadap mutu dan integritas. Proyek pembangunan bukan hanya soal menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga soal menjaga kepercayaan masyarakat.
Antara Teknologi dan Tanah Labil
Pelajaran penting lainnya yang kami diskusikan hari itu adalah soal keseimbangan antara teknologi dan realitas lapangan.
Pak Grahito mengangkat contoh proyek pembangunan pelindung tepi sungai dari beton di wilayah dengan tanah labil. Meski dari sisi desain terlihat kokoh dan sesuai standar, penerapannya di lapangan justru menyebabkan kegagalan.
“Tanah sungai itu labil, bergerak. Kalau dipaksakan pakai beton, pasti hancur. Harusnya pakai beronjong, karena lebih fleksibel dan bisa mengikuti pergerakan tanah.”
Beliau menekankan bahwa teknologi saja tidak cukup. Desain yang baik tidak hanya datang dari hitung-hitungan di komputer, tapi juga dari pemahaman terhadap kondisi alam dan karakter tanah setempat.
Teknologi Harus Bersinergi dengan Pengalaman
Sebagai mantan Kepala Balitbang dan juga Staf Ahli Menteri, tentu Pak Grahito sangat memahami pentingnya inovasi dan teknologi. Namun ia mengingatkan bahwa kecanggihan tidak boleh mengabaikan konteks.
“Kita punya software, punya alat ukur, punya perhitungan. Tapi kalau tidak turun ke lapangan, tidak berdialog dengan alam, hasilnya bisa ngawur.”
Desain yang baik lahir dari interaksi antara teori dan kenyataan. Teknologi harus menjadi alat bantu, bukan penentu tunggal. Di sinilah pentingnya komunikasi dan kerja sama antara tim teknis dan pelaksana di lapangan.
Cerita Sungai, Sampah, dan Jembatan Hanyut
Salah satu kisah teknis yang beliau sampaikan adalah tentang kerusakan jembatan akibat sampah yang menumpuk di bawahnya. Tumpukan itu menghasilkan turbulensi air yang kuat dan menghantam struktur fondasi.
“Sampah di jembatan itu seperti bom waktu. Kalau tidak dibersihkan, turbulensi air bisa menghancurkan pancang.”
Menurutnya, kerusakan besar sering berasal dari hal-hal kecil yang diabaikan. Itulah pentingnya pengawasan berkala dan kesadaran kolektif.
Pembangunan Harus Memahami Sosial-Budaya Lokal
Diskusi kami meluas ke aspek sosial dan budaya kota Solo, tempat beliau tinggal. Ia menjelaskan bagaimana sejarah membuat masyarakat Solo cenderung tertutup dan hati-hati dalam menyikapi perubahan.
“Solo itu beda sama Jogja. Di sini, sejak zaman kolonial, orang terbiasa diam. Karena dulu, keterbukaan bisa dianggap membahayakan.”
Pernyataan ini memperkuat pesan bahwa pembangunan harus memahami karakter masyarakat setempat. Tidak semua pendekatan bisa diterapkan secara seragam. Kearifan lokal harus menjadi bagian dari solusi.
Refleksi tentang Kepemimpinan
Pak Grahito juga menekankan pentingnya mewariskan nilai kepada generasi muda. Menurutnya, menjadi insinyur bukan sekadar mampu mendesain, tapi juga memiliki tanggung jawab moral dan sosial.
“Yang muda-muda harus belajar terus. Jangan merasa cukup. Turun ke lapangan. Dengarkan warga. Lihat tanah. Rasakan air.”
Beliau percaya bahwa ilmu dan pengalaman harus terus diturunkan — bukan hanya melalui kuliah, tapi lewat dialog, praktik langsung, dan kerja sama lintas generasi.
Penutup: Segera Koreksi, dan Terus Belajar
Silaturahmi lebaran kali ini bukan hanya tentang temu kangen, tetapi menjadi ruang refleksi yang dalam. Dari cerita proyek, filosofi kepemimpinan, hingga pandangan tentang kota dan sejarah, semuanya mengandung satu pesan utama:
Pembangunan harus berpijak pada keseimbangan antara teknologi dan kenyataan di lapangan.
Pak Grahito menunjukkan bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang berani membongkar kesalahan, mengoreksi dengan cepat, dan terus belajar tanpa henti. Ia mungkin telah pensiun dari jabatan, tapi nilai-nilai yang beliau tanam masih terus tumbuh dalam diri kami yang pernah belajar di bawah bimbingannya.
