Menangkap Cahaya, Membingkai Makna: Kisah Subanji, Dokter yang Jatuh Cinta pada Fotografi

Profil

Pendahuluan

Di usia 71 tahun, Subanji tidak hanya dikenang sebagai seorang dokter THT lulusan Universitas Diponegoro angkatan 1973, tetapi juga sebagai sosok yang menemukan dunia kedua dalam hidupnya—fotografi. Dari lensa kameranya, Subanji memotret lebih dari sekadar gambar; ia menangkap cerita, rasa, dan pesan yang ingin ia sampaikan kepada dunia.

Dari Klinik ke Kamera

Ketertarikan Subanji terhadap dunia fotografi bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Sejak muda, benih ketertarikan itu sudah ada. “Dulu saya suka, tapi belum punya kamera,” kenangnya. Barulah ketika ia dipinjami kamera oleh temannya, Mas Imam dari Suara Merdeka, ia mulai benar-benar terjun ke dunia ini.

Sejak itu, kamera menjadi teman setianya dalam menapaki berbagai momen hidup—dari perjalanan ke Karimunjawa, pemotretan lanskap pagi hari, hingga acara komunitas di Surabaya. Ia mulai belajar teknik, komposisi, dan filosofi di balik foto. Tapi baginya, yang paling penting dari semua itu adalah rasa.

Fotografi Sebagai Jalan untuk Menyampaikan Pesan

“Foto yang baik itu harus bisa bercerita,” kata Subanji. Ia percaya bahwa setiap foto adalah refleksi dari cara seseorang memandang dunia. Ia banyak memotret lanskap, terutama di pagi hari, sebagai bentuk kekagumannya pada ciptaan Tuhan.

“Aku ingin menunjukkan keindahan pagi—tapi bukan sekadar indah. Aku ingin orang lain juga bisa merasakan semangat dan ketenangan yang aku rasakan ketika memotret pagi,” jelasnya. Subanji juga punya filosofi pribadi dalam memotret: menyampaikan kecintaan kepada Sang Pencipta dan membuat orang lain bahagia.

Belajar Tiada Henti

Meski usianya tak muda lagi, semangat Subanji untuk terus belajar tak pernah padam. Ia aktif mengikuti berbagai kursus dan pelatihan, dari teknik potret hingga pemahaman teknis soal ISO, kecepatan rana, dan diafragma. Ia juga aktif di komunitas fotografi Surabaya, ikut kegiatan hunting foto, dan berbagi pengalaman dengan para anggota muda.

Subanji tak ragu mencoba pendekatan yang kadang menyimpang dari teori. “Kadang saya sengaja melanggar pakem, asal hasilnya bagus. Ilmu itu penting, tapi jangan kaku. Ekspresi dan perasaan juga harus ikut bicara dalam foto,” tegasnya.

Prestasi yang Tak Disangka

Fotografi bukan hanya jadi media ekspresi, tapi juga membawanya pada pengakuan. Salah satu momen berkesan adalah saat ia menjadi nominasi dalam Canon Air Force Foto Marathon 2018. Foto pesawat yang diambilnya dari sudut belakang, dengan siluet pilot yang baru saja turun di bawah cahaya pagi, berhasil memikat juri.

Tak hanya itu, ia juga pernah meraih juara tiga untuk foto bangunan dengan bentuk simetris menarik yang diambil dari atas mall, serta mendapat apresiasi untuk foto potret candid pelaku UMKM yang sedang berjualan.

Teknik Bertemu Intuisi

Bagi Subanji, teknik adalah fondasi, tapi intuisi adalah jiwa dari fotografi. Ia menguasai prinsip “rule of third”, pentingnya foreground, hingga cara mengarahkan model secara alami. “Saya kadang diam saja, biarkan orang lain yang bicara ke model. Saya tinggal tangkap momen terbaiknya,” ujarnya sambil tersenyum.

Ia juga memanfaatkan berbagai jenis kamera, dari DSLR hingga mirrorless, menyesuaikan dengan kondisi lapangan. “Yang penting tahu kapan dan bagaimana menggunakannya. Jangan sampai alat membatasi kreativitas,” katanya.

Dari Hobi Jadi Warisan

Kini, Subanji memiliki ribuan koleksi foto yang tersimpan. Meski belum semuanya terdokumentasi secara digital, ia tahu bahwa tiap gambar punya nilai tersendiri. Ia juga sering diminta memotret keluarga, terutama oleh anak dan cucunya. “Gak apa-apa dijadiin tukang foto, asal mereka senang. Itu juga bagian dari filosofi saya: bikin orang lain bahagia,” ujarnya dengan hangat.

Ia mengaku menyesal belum sempat mengarsipkan semua karya dengan baik, tapi tetap bersyukur karena fotografi telah menjadi bagian bermakna dalam hidupnya.

Penutup

Subanji adalah bukti bahwa usia bukan penghalang untuk belajar, berkarya, dan menyentuh hidup orang lain. Dari ruang operasi ke ruang pamer foto, dari pagi yang hening ke senja yang syahdu, ia menangkap keindahan yang tak bisa diceritakan dengan kata.

Melalui kameranya, Subanji tidak hanya membingkai dunia—ia membingkai makna. Sebuah pelajaran penting, bahwa dalam hidup, kita semua punya kesempatan untuk memotret yang indah, jika kita cukup peka untuk melihat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *