Beranda / Liputan Khusus A / dr. Dinar Rahmania, Sp.BP-RE: Sehat Itu Pilihan, Cantik Itu Bonus

dr. Dinar Rahmania, Sp.BP-RE: Sehat Itu Pilihan, Cantik Itu Bonus

Surabaya, BChannel News – Sosok dr. Dinar Rahmania, Sp.BP-RE mungkin dikenal luas sebagai Dokter Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik di RSIA Bunda Morula Surabaya. Namun, di balik keahliannya dalam tindakan estetik, beliau juga merupakan seorang ibu dua anak dan profesional medis berusia 41 tahun yang aktif mengedukasi masyarakat tentang pentingnya gaya hidup sehat dan pencegahan penyakit metabolik seperti diabetes.

Dalam sesi bincang hangat bersama tim BChannel News, dr. Dinar—yang kerap disapa akrab “Dr. Nia”—membagikan pandangannya tentang hidup sehat dari perspektif seorang dokter sekaligus perempuan yang menjalani peran ganda di rumah dan ruang praktik

Menghadapi Genetik, Menang dengan Gaya Hidup

Memiliki riwayat keluarga dengan penyakit diabetes membuat dr. Dinar tidak tinggal diam. Ia menjadikan risiko genetik tersebut sebagai motivasi untuk membangun kesadaran dan kedisiplinan hidup sehat. “Kita tidak bisa memilih gen, tapi kita bisa memilih gaya hidup. Itu yang menentukan masa depan kesehatan kita,” ujarnya tegas.

Puasa Intermiten: Waktu untuk Tubuh Beristirahat

Salah satu praktik gaya hidup yang ia terapkan adalah intermittent fasting  (IF) atau puasa intermiten dengan pola 16:8 (16 jam puasa, 8 jam makan). Bagi dr. Dinar, ini bukan tren sesaat, melainkan strategi ilmiah untuk memberi waktu tubuh memperbaiki dirinya.

“Selama kita tidak makan, tubuh bekerja membersihkan dan menyeimbangkan metabolisme. Ini sangat bermanfaat untuk pankreas, terutama bagi yang punya kecenderungan diabetes,” jelasnya.


Intermittent Fasting: Bukan Sekadar Tren, Tapi Investasi Kesehatan

intermittent fasting (IF) bukan hanya tren gaya hidup, tetapi strategi ilmiah untuk menjaga metabolisme tetap optimal.

“Dengan memberi jeda makan selama 16 jam, tubuh punya waktu memperbaiki sel dan menurunkan stres metabolik,” ujar dr. Dinar, yang juga menjalani IF sebagai upaya mencegah diabetes genetik.

Metode IF paling populer adalah pola 16:8, dengan fokus pada kualitas asupan saat waktu makan: rendah gula, tinggi serat, dan cukup protein.

Meski aman untuk sebagian besar orang dewasa, IF tidak dianjurkan bagi anak-anak, ibu hamil, atau penderita penyakit kronis tanpa pengawasan medis.

Kesimpulannya? IF dapat menjadi bagian dari pola hidup sehat, selama dilakukan dengan sadar, bertahap, dan disesuaikan kondisi tubuh masing-masing.


Bijak dalam Memilih Makanan

Selain pola makan teratur, dr. Dinar sangat menekankan pentingnya memahami komposisi makanan, bukan hanya menghitung kalori. Ia menyarankan menghindari gula tambahan dan karbohidrat olahan, serta memperbanyak konsumsi protein, serat, dan lemak baik.

Menu sarapan favoritnya sederhana namun penuh gizi: telur rebus, pepaya, dan roti gandum rendah glikemik. Jus buah ia hindari karena kandungan gulanya yang tinggi dan minim serat. “Kita harus pintar membaca label nutrisi, jangan tertipu istilah ‘sehat’ di kemasan,” tambahnya.

Obat adalah Pendamping, Bukan Solusi Utama

Sebagai dokter, dr. Dinar mengingatkan bahwa obat bukanlah solusi utama, terutama dalam kasus penyakit metabolik seperti diabetes. “Saya tidak anti-obat, tapi lebih percaya pada perubahan gaya hidup sebagai langkah pertama,” tegasnya. Ia kerap menyarankan pasien untuk berfokus memperbaiki metabolisme tubuh terlebih dahulu, sebelum bergantung pada terapi farmakologis.

Kualitas Tidur dan Manajemen Stres: Kunci Regenerasi

Tak hanya soal makan dan puasa, dr. Dinar juga menekankan pentingnya tidur cukup dan mengelola stres. Kedua aspek ini sering diabaikan, padahal sangat berpengaruh terhadap keseimbangan hormon, termasuk insulin.

“Tidur adalah waktu tubuh memperbaiki dirinya. Stres kronis menaikkan kadar kortisol dan gula darah secara diam-diam. Jadi, relaksasi dan waktu istirahat itu bukan kemewahan, tapi kebutuhan,” ujarnya.

Peran Estetika dalam Kesehatan Holistik

Sebagai seorang dokter spesialis bedah plastik, dr. Dinar juga menangani pasien-pasien yang memerlukan tindakan rekonstruktif dan estetik. Namun ia menegaskan, bahwa prosedur estetik yang ia lakukan bukan semata untuk mempercantik, tetapi juga sebagai bagian dari pemulihan diri pasien.

Misalnya pada pasien pasca stroke, diabetes, atau trauma fisik, tindakan rekonstruksi dapat membantu memulihkan fungsi sekaligus kepercayaan diri. “Kecantikan dan kesehatan tidak bertolak belakang. Justru bisa saling melengkapi,” jelasnya.

Terapi PRP: Regenerasi dari Dalam Tubuh

Selain tindakan bedah, dr. Dinar juga mengembangkan pendekatan regeneratif seperti terapi PRP (Platelet-Rich Plasma) untuk membantu pemulihan jaringan, termasuk pada kasus luka diabetes, kulit rusak, hingga rejuvenasi wajah.

“PRP memanfaatkan kemampuan alami tubuh untuk menyembuhkan diri. Ini adalah terapi pendamping yang mempercepat pemulihan bila disinergikan dengan gaya hidup sehat,” paparnya.


Sebagai pelengkap pendekatan holistik, dr. Dinar juga mengeksplorasi penggunaan Platelet-Rich Plasma (PRP). Terapi ini memanfaatkan plasma darah kaya trombosit untuk mempercepat regenerasi sel. “PRP bukan pengganti, tapi akselerator penyembuhan. Utamanya untuk pasien dengan luka kronik, diabetes, atau peremajaan kulit,” paparnya.

Platelet-Rich Plasma (PRP) adalah terapi yang menggunakan komponen darah sendiri untuk membantu proses penyembuhan dan regenerasi sel. Caranya sederhana: darah diambil dari tubuh pasien, lalu diproses dengan mesin khusus untuk memisahkan plasma yang kaya trombosit (platelet).

Trombosit ini kaya akan faktor pertumbuhan yang berfungsi mempercepat perbaikan jaringan. PRP kemudian disuntikkan kembali ke bagian tubuh yang membutuhkan, seperti kulit wajah, sendi, atau luka.

PRP banyak digunakan untuk:

  • Peremajaan kulit (estetika)
  • Penyembuhan cedera otot dan sendi
  • Regenerasi jaringan pada pasien diabetes atau pascastroke

Karena menggunakan darah sendiri, risiko alergi sangat rendah. Menurut dr. Dinar Rahmania, Sp.BP-RE, PRP dapat menjadi terapi pendamping alami yang mendukung pemulihan tubuh, selama dibarengi pola hidup sehat.


Menjadi Teladan Sejak dari Rumah

Sebagai ibu dari dua anak, dr. Dinar memahami bahwa perubahan gaya hidup paling efektif dimulai dari rumah. Ia ingin anak-anaknya tumbuh dalam lingkungan yang sehat, aktif, dan penuh kesadaran.

“Saya ingin anak-anak saya melihat bahwa ibunya bukan hanya dokter yang mempraktikkan keilmuan di rumah sakit, tapi juga seseorang yang menjalani hidup sehat dengan konsisten,” katanya.


Tips Mudah Intermittent Fasting 16:8

Intermittent Fasting 16:8 artinya Anda berpuasa selama 16 jam dan hanya makan di jendela waktu 8 jam. Contohnya: makan dari jam 12 siang sampai 8 malam, lalu puasa dari jam 8 malam sampai 12 siang keesokan harinya.

Berikut tipsnya:

  1. Pilih jam makan yang cocok dengan aktivitas harian Anda.
  2. Awali dengan perlahan, misalnya 14:10 (puasa 14 jam), lalu tingkatkan jadi 16:8.
  3. Saat puasa, boleh minum air putih, teh, atau kopi tanpa gula.
  4. Saat makan, hindari makan berlebihan, pilih makanan tinggi protein, sayur, dan lemak sehat.
  5. Tidur cukup agar tubuh tidak mudah lapar.
  6. Hindari cemilan malam dan kurangi makanan manis atau olahan.

Yang penting: dengarkan tubuh Anda. Jika terasa lemah atau tidak nyaman, konsultasikan ke dokter.


Catatan Redaksi

Melalui wawancara ini, kami melihat bahwa dr. Dinar bukan sekadar praktisi estetik, melainkan seorang profesional kesehatan dengan visi holistik. Ia mengajak masyarakat untuk tidak hanya mengejar penampilan luar, tetapi juga menyadari pentingnya perawatan tubuh dari dalam.

Di usia 41 tahun, dengan tanggung jawab sebagai ibu dan dokter, dr. Dinar telah menjadi inspirasi bahwa hidup sehat bukanlah beban — melainkan pilihan yang membentuk masa depan kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *