oleh: Tranggono
Ketika Kepastian yang Sering Dilupakan Justru Mengajarkan Cara Terbaik Menjalani Hidup
Bismillahirrahmanirrahim.
Beberapa tahun terakhir, saya semakin sering menerima kabar berpulangnya sahabat, guru, rekan kerja, maupun orang-orang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup saya.
Setiap kali mendengar kabar itu, saya selalu terdiam sejenak.
Bukan semata-mata karena kehilangan seseorang yang saya kenal, tetapi karena saya kembali diingatkan pada sebuah kenyataan yang sering kita lupakan: suatu hari nanti, giliran itu juga akan datang kepada saya.
Kesadaran seperti itu tidak membuat saya takut menjalani hidup.
Sebaliknya, ia justru mengajarkan untuk lebih menghargai setiap hari yang masih Allah SWT anugerahkan.
Saya mulai bertanya kepada diri sendiri: apakah waktu yang saya miliki benar-benar digunakan untuk sesuatu yang bernilai? Apakah kesibukan yang saya jalani mendekatkan saya kepada tujuan hidup, atau justru menjauhkan saya darinya?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu mudah dijawab.
Namun, justru dari sanalah refleksi kehidupan sering dimulai.
Kepastian yang Tidak Pernah Masuk Agenda
Tidak ada seorang pun yang memasukkan kematian ke dalam agenda hidupnya.
Kita merencanakan target pekerjaan hingga akhir tahun, menyusun strategi bisnis, mempersiapkan pendidikan anak, merancang masa pensiun, bahkan mengisi kalender dengan berbagai pertemuan penting.
Namun, tidak seorang pun mengetahui kapan lembar terakhir kehidupannya akan ditutup.
Bukan karena kita tidak percaya bahwa kematian pasti datang, melainkan karena kita sering hidup seolah-olah waktunya masih sangat panjang.
Padahal Allah SWT telah mengingatkan:
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.”
(QS. Ali ’Imran: 185)
Ayat ini tidak hanya berbicara tentang akhir kehidupan.
Ia mengajarkan bahwa karena hidup memiliki batas, maka setiap hari yang kita jalani memiliki nilai yang sangat berharga.
Mengingat Kematian Bukan Berarti Takut Hidup
Di tengah budaya yang mengagungkan produktivitas, pencapaian, dan kesibukan, pembicaraan tentang kematian sering dianggap sebagai sesuatu yang suram.
Padahal Islam mengajarkan hal yang berbeda.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian.”
(HR. Tirmidzi)
Hadis ini bukanlah ajakan untuk menjadi pesimis.
Sebaliknya, ia mengajarkan kesadaran.
Seseorang yang menyadari bahwa hidupnya terbatas akan lebih berhati-hati dalam memilih apa yang layak diperjuangkan.
Ia tidak mudah menunda meminta maaf.
Tidak terlalu sibuk mengejar hal-hal yang sementara.
Dan lebih menghargai waktu bersama keluarga, sahabat, maupun orang-orang yang Allah titipkan dalam kehidupannya.
Dunia Sedang Memberikan Pengingat
Menariknya, apa yang diajarkan agama juga semakin relevan ketika kita melihat berbagai perubahan yang sedang terjadi di dunia.
Indonesia kini telah memasuki fase masyarakat menua (ageing population). Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa proporsi penduduk lanjut usia terus meningkat, seiring bertambahnya angka harapan hidup.
Di sisi lain, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa kesepian menjadi persoalan kesehatan global yang berkaitan dengan ratusan ribu kematian setiap tahun.
Ironisnya, di era ketika teknologi membuat komunikasi semakin mudah, banyak orang justru merasa semakin jauh dari keluarga, sahabat, bahkan dari dirinya sendiri.
Fenomena ini mengingatkan bahwa memperpanjang usia bukanlah tujuan akhir.
Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita mengisi usia yang Allah SWT berikan dengan hubungan yang bermakna, pekerjaan yang bermanfaat, dan amal yang tidak berhenti ketika kehidupan dunia berakhir.
Ketika Kesibukan Menjadi Ilusi
Saya juga belajar bahwa kesibukan sering kali menghadirkan ilusi.
Kita merasa masih memiliki banyak waktu.
Masih sempat berkunjung kepada orang tua.
Masih sempat meminta maaf kepada sahabat.
Masih sempat memperbaiki ibadah.
Masih sempat lebih dekat dengan keluarga.
Padahal tidak ada seorang pun yang mengetahui berapa banyak hari yang masih Allah SWT titipkan kepada kita.
Karena itu Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah dipersiapkannya untuk hari esok.”
(QS. Al-Hasyr: 18)
Ayat ini mengajarkan kebiasaan yang sangat penting: berhenti sejenak untuk mengevaluasi diri.
Bukan hanya apa yang telah kita capai, tetapi juga siapa yang telah kita bahagiakan, amanah apa yang telah kita jaga, dan manfaat apa yang telah kita tinggalkan.
Profesionalisme yang Berakar pada Kesadaran
Semakin saya renungkan, mengingat kematian tidak menjadikan seseorang kehilangan semangat berkarya.
Justru sebaliknya.
Kesadaran bahwa hidup ini terbatas membuat kita terdorong untuk bekerja lebih jujur, lebih bertanggung jawab, dan lebih amanah.
Seorang pemimpin akan lebih berhati-hati menggunakan kewenangan.
Seorang profesional akan menjaga integritasnya.
Seorang pengusaha akan lebih memikirkan keberkahan daripada sekadar keuntungan.
Dan seorang anggota keluarga akan lebih menghargai waktu bersama orang-orang yang dicintainya.
Ketika tujuan hidup menjadi lebih jelas, pekerjaan bukan lagi sekadar mencari nafkah, tetapi juga menjadi bagian dari ibadah dan pengabdian.
Yang Tetap Hidup Setelah Kita Tiada
Pada akhirnya, hampir semua yang kita miliki akan berpindah tangan.
Jabatan akan berganti.
Harta akan diwariskan.
Rumah akan dihuni generasi berikutnya.
Nama kita pun perlahan akan menjadi bagian dari sejarah keluarga.
Namun ada sesuatu yang tetap hidup.
Ilmu yang bermanfaat.
Kebaikan yang terus mengalir.
Integritas yang menjadi teladan.
Anak-anak yang tumbuh dengan akhlak yang baik.
Kasih sayang yang pernah kita berikan.
Dan jejak manfaat yang masih dirasakan orang lain.
Barangkali itulah warisan yang sesungguhnya.

Saatnya Menata Kembali Prioritas
Semakin bertambah usia, saya merasa pertanyaan terpenting dalam hidup bukan lagi:
“Apa lagi yang ingin saya miliki?”
Melainkan:
“Manfaat apa lagi yang masih dapat saya berikan?”
Pertanyaan itu perlahan mengubah cara saya memandang kehidupan.
Saya ingin lebih banyak hadir untuk keluarga.
Lebih menjaga amanah dalam pekerjaan.
Lebih menghargai persahabatan.
Lebih mudah memaafkan.
Lebih bersungguh-sungguh memperbaiki ibadah.
Karena saya menyadari bahwa tidak semua kesempatan akan datang untuk kedua kalinya.
Penutup
Barangkali kita memang tidak pernah mengetahui kapan perjalanan ini akan berakhir.
Namun kita selalu memiliki kesempatan untuk menentukan bagaimana hari ini akan dijalani.
Mensyukuri waktu bersama keluarga.
Menyelesaikan pekerjaan dengan jujur.
Menolong orang lain ketika mampu.
Meminta maaf sebelum terlambat.
Dan menutup setiap hari dengan harapan semoga Allah SWT menerima segala ikhtiar yang telah kita lakukan.
Mungkin persoalannya bukan karena kita lupa bahwa suatu hari akan meninggal.
Kita semua mengetahuinya.
Persoalannya adalah kita sering hidup seolah-olah hari itu masih sangat jauh.
Karena itulah nasihat Rasulullah ﷺ untuk mengingat kematian tidak pernah kehilangan relevansinya.
Bukan agar kita takut menghadapi kehidupan.
Melainkan agar setiap hari yang masih Allah SWT titipkan benar-benar kita isi dengan iman, kejujuran, kasih sayang, dan manfaat bagi sesama.
Sebab pada akhirnya, yang akan dikenang bukanlah seberapa lama kita hidup.
Melainkan seberapa besar kebaikan yang tetap hidup setelah kita tiada.
Catatan Redaksi
Seri Refleksi Kehidupan menghadirkan pengalaman nyata sebagai ruang renungan dan pembelajaran. BChannel percaya bahwa setiap perjalanan hidup menyimpan hikmah yang layak dibagikan, sehingga pengalaman pribadi dapat diolah menjadi inspirasi, penguatan nilai, dan kebijaksanaan yang bermanfaat bagi banyak orang.









