Siapa sangka, sebuah grup WhatsApp bisa menjadi ruang belajar yang kaya inspirasi? Dalam obrolan sehari-hari di WAG KMSI sepanjang April–Mei 2025, muncul begitu banyak topik yang seakan merangkai sebuah perjalanan belajar bersama: mulai dari kisah bisnis global, perkembangan teknologi, filosofi hidup, hingga refleksi spiritual. Semua itu mengingatkan kita bahwa belajar bisa datang dari mana saja—asal kita mau menangkap hikmahnya.
Bisnis: Belajar dari Apple dan Samsung
Kisah lama tapi tetap relevan: Apple dan Samsung. Dua raksasa teknologi ini pernah berseteru di meja hijau karena tuduhan penjiplakan. Namun, ironisnya, mereka tetap saling membutuhkan. Apple masih membeli komponen dari Samsung. Dari sini kita belajar: bersaing tidak selalu berarti bermusuhan. Dunia modern justru menuntut kita untuk bisa berkompetisi sekaligus berkolaborasi.
AI: Tantangan Bukan Lagi Inovasi, Tapi Energi
Di panggung TED 2025, Eric Schmidt, mantan CEO Google, membuat banyak orang terhenyak. Menurutnya, tantangan terbesar AI bukan soal kecerdasan mesin, melainkan energi. Superintelligence bisa hadir dalam lima tahun, tapi infrastruktur listrik dunia belum siap. Prediksi Schmidt: China akan memimpin dalam open-source AI. Yang menarik, ia menolak wacana menghentikan perkembangan AI. Baginya, kuncinya adalah membangun pagar pengaman (guardrails), bukan menekan tombol berhenti.
Ekonomi China: Empat Pilar dan Filosofi Ribuan Tahun
China sering dipandang aneh oleh Barat. Profesor Keyu Jin menjelaskan, mereka bukan sekadar negara komunis. Partai di sana awalnya bertumpu pada buruh dan tani. Jiang Zemin menambahkan pilar pengusaha, lalu Hu Jintao menambahkan pilar ilmu pengetahuan. Empat pilar inilah yang membuat ekonomi China melesat. Tapi fondasi sebenarnya ada pada filosofi ribuan tahun—Konfusius, Tao, dan Budha—yang tetap hidup meski sempat coba dihapus. Dari sini kita belajar: kebudayaan yang kokoh bisa menopang modernisasi.
Maslow Bertemu Neurosis
Teori kebutuhan Maslow sering kita baca di buku psikologi. Namun kini, neurosains memberi warna baru.
-
Kebutuhan dasar dikendalikan brainstem dan hipotalamus.
-
Rasa aman terkait dengan amigdala.
-
Cinta memicu oksitosin.
-
Penghargaan mengaktifkan nucleus accumbens.
-
Aktualisasi diri melibatkan Default Mode Network, pusat kreativitas otak.
Artinya, Maslow bukan sekadar piramida psikologi, tapi juga peta biologis manusia.
Trust: Pelajaran dari EJB dan Argue
Cerita inspiratif datang dari Erizeli Jely Bandaro (EJB), pengusaha Minang di China. Ia ditugaskan meyakinkan Aiguo, diaspora China di Jepang, untuk pulang membangun industri LCD. Perjuangan panjang—satu tahun, delapan kali pertemuan, hadiah kecil, hingga akhirnya Aiguo luluh. Menariknya, bukan karena tawaran bisnis, melainkan karena melihat integritas pribadi EJB.
Pelajarannya jelas: trust tidak lahir dari proposal, melainkan dari ketulusan. Stephen Covey pun menegaskan: kepercayaan adalah fondasi kepemimpinan.
Dari Knowledge Worker ke Wisdom Worker
Era sekarang bukan hanya soal menguasai informasi. Dunia yang kompleks menuntut lebih. Wisdom worker adalah mereka yang bekerja dengan kebijaksanaan—peka terhadap konteks, rendah hati, tahu kapan bertindak dan kapan mendengar. Menariknya, banyak wisdom worker justru lahir di masa pensiun. Mereka tidak lagi mencari gelar, tetapi makna; tidak lagi menulis untuk pengakuan, tetapi untuk berbagi.
The Death of Expertise: Ancaman Nyata
Tom Nichols dalam bukunya The Death of Expertise mengingatkan: kita hidup di zaman di mana opini sering disamakan dengan pengetahuan. Publik makin percaya diri, sementara teknokrat makin terpinggirkan. Akibatnya, keputusan penting sering diambil tanpa dasar ilmiah. Nichols menyerukan dua hal:
-
Ahli harus lebih komunikatif dan rendah hati.
-
Publik harus belajar menghargai kepakaran.
Di dunia yang kompleks, kepakaran tetap menjadi mercusuar.
Sedekah Doa: Kebaikan yang Ringan tapi Dalam
Di tengah diskusi teknologi dan ekonomi, muncul renungan sederhana namun mendalam: sedekah doa. Cukup dengan mengetik “Aamiin” ketika ada doa lewat di grup, kita sudah bersedekah. Doa untuk orang lain bahkan bisa kembali pada diri kita, diaminkan malaikat, dan membuka pintu keberkahan. Kebaikan kecil, dampaknya panjang.
Penutup: Dari Chat Menjadi Wisdom
Percakapan di WAG KMSI membuktikan satu hal: belajar bisa datang dari mana saja. Dari kisah bisnis, kita belajar kolaborasi. Dari AI, kita belajar menyiapkan energi. Dari China, kita belajar pentingnya budaya. Dari Maslow, kita belajar bahwa kebutuhan manusia punya dasar biologis. Dari EJB, kita belajar ketulusan membangun trust. Dari Kiyosaki, kita belajar mengelola uang. Dari Nichols, kita belajar menghargai kepakaran. Dan dari doa sederhana, kita belajar bahwa kebaikan tak harus mahal.
Pada akhirnya, semua ini mengajarkan kita untuk tidak berhenti di level knowledge worker, tapi naik kelas menjadi wisdom worker—pekerja kebijaksanaan. Karena sejatinya, bekerja bukan lagi soal usia, jabatan, atau gelar, melainkan tentang memberi makna bagi orang lain.
