Jika Marah maka ingatlah pada Allah

Ketika Marah Menjadi Dosa: Jalan Kembali Menuju Taubat dan Kedamaian

Khazanah

“Marah itu seperti api. Ia bisa membakar segalanya — hubungan, nama baik, bahkan pahala amal yang sudah dikumpulkan bertahun-tahun. Tapi Islam tidak membiarkan kita hangus. Ia memberi kita alat untuk memadamkan, menenangkan, bahkan menyucikan kembali hati yang terbakar.”


1. Marah Adalah Fitrah, Tapi Harus Dijaga 

Setiap dari kita pasti pernah marah. Entah karena pasangan tidak mendengarkan, anak membantah, rekan kerja mengecewakan, atau jalanan macet di saat genting. Emosi itu meletup begitu saja. Lalu lidah ikut berapi, tindakan menjadi keras, dan akhirnya… penyesalan datang tanpa diundang.

Namun, dalam Islam, marah bukan sesuatu yang otomatis tercela. Marah adalah bagian dari fitrah manusia — ciptaan Allah yang punya fungsi. Rasulullah ﷺ pun pernah marah, tapi hanya untuk membela kebenaran dan kehormatan agama.

“Orang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat, tapi orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Ketika Marah Menjadi Dosa Lisan 

Masalahnya bukan pada marah, tapi pada bagaimana kita menyalurkannya. Ketika marah dilampiaskan dengan kata-kata kasar, hinaan, makian, atau cacian, maka yang tadinya bisa dimaafkan menjadi sebuah dosa lisan yang berat.

“Sesungguhnya seseorang mengucapkan satu kalimat yang dia anggap ringan, padahal kalimat itu menyebabkan dia tergelincir ke dalam neraka sejauh antara timur dan barat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam Islam, lisan adalah anggota tubuh yang paling ringan geraknya, tetapi paling berat timbangannya di akhirat. Apa yang kita ucapkan, tak pernah hilang — semuanya tercatat.

“Tidak ada satu kata pun yang terucap, kecuali di dekatnya ada malaikat pengawas yang mencatat.” (QS. Qaf: 18)

3. Langkah Taubat Setelah Marah Besar 

3.1. Bertaubat Kepada Allah

Taubat adalah wajib bagi setiap Muslim yang sadar telah berbuat salah, termasuk marah berlebihan dan menyakiti dengan kata-kata.

Rukun taubat dalam Islam:

  • Menyesali perbuatan dengan sungguh-sungguh.
  • Berhenti dari perbuatan buruk tersebut.
  • Bertekad tidak mengulangi.
  • Jika menyakiti orang lain → minta maaf.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidaklah seorang hamba melakukan dosa, lalu ia bersuci dengan baik, kemudian ia shalat dua rakaat dan memohon ampun kepada Allah, melainkan Allah pasti akan mengampuninya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Langkah praktis:

  • Ambil wudhu.
  • Shalat dua rakaat taubat dengan penuh kerendahan hati.
  • Mohon ampunan dengan dzikir dan doa yang jujur.

3.2. Meminta Maaf Kepada Orang yang Dimarahi

Kesalahan terhadap sesama manusia tidak bisa selesai hanya dengan taubat kepada Allah. Ini disebut haqqul adami — hak orang lain yang wajib diselesaikan.

“Barang siapa melakukan kezaliman terhadap saudaranya, baik menyangkut kehormatan atau harta, maka hendaklah ia meminta kehalalan darinya sebelum datang hari kiamat, di mana tidak ada dinar dan dirham.” (HR. Bukhari)

Jika kita pernah berkata kasar, menghina, atau mempermalukan orang lain saat marah, maka kita wajib meminta maaf. Bukan demi citra, tapi demi keselamatan akhirat.

3.3. Jika Takut atau Malu Meminta Maaf

Tak semua orang mudah berkata “maaf.” Tapi dalam Islam, meminta maaf adalah bukti kelapangan jiwa dan kemuliaan akhlak.

“Dan orang-orang yang jika melakukan perbuatan keji atau menzalimi diri mereka sendiri, mereka segera mengingat Allah dan memohon ampun.” (QS. Ali Imran: 135)

Kalimat sederhana bisa sangat bermakna:

“Aku minta maaf. Saat itu aku marah dan berkata yang tidak pantas. Aku menyesal.”

Jika tidak bisa bertatap muka:

  • Kirim pesan teks atau suara.
  • Telepon dengan nada rendah hati.
  • Tulis surat permintaan maaf yang tulus.

3.4. Jika Permintaan Maaf Ditolak

Kadang, kita sudah minta maaf, tapi tidak diterima. Apa yang harus dilakukan?

“Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Jika sudah meminta maaf dengan niat tulus:

  • Tanggung jawab Anda di sisi Allah sudah selesai.
  • Lanjutkan hidup dengan terus mendoakan orang tersebut.
  • Tetap berbuat baik, jangan simpan dendam.

“Dan balasan dari keburukan adalah keburukan yang setimpal, tetapi siapa yang memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya di sisi Allah.”  (QS. Asy-Syura: 40)

Tabel panduan singkat tentang marah dalam Islam

4. Dari Marah Menuju Pembersihan Jiwa 

Kadang, sebuah momen marah yang meledak menjadi titik balik seseorang untuk lebih sadar akan bahaya lisan dan rapuhnya hati. Jangan anggap momen itu sebagai kehancuran — anggaplah sebagai kesempatan untuk menjadi hamba yang lebih dekat dengan Allah.

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)


Doa Penutup

“Ya Allah, Engkau tahu bagaimana hati ini pernah terbakar karena amarah. Aku menyesal. Ampunilah lisanku yang kasar. Lembutkanlah jiwaku, kuatkanlah tekadku untuk menjadi pribadi yang sabar, tenang, dan lebih Engkau cintai.”

(Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin)


Tulisan ini disusun oleh Tim Redaksi BChannel News untuk rubrik Khazanah, sebagai pengingat bahwa jalan kembali selalu terbuka, sejauh apapun kita pernah tersesat oleh amarah.

 

Ingin mengelola emosi dengan lebih bijak? Coba mulai dengan latihan jurnal refleksi harian, atau bagikan artikel ini kepada orang terdekat yang mungkin sedang berjuang menahan amarahnya.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *