1.500 Tahun Banjir di Bekasi, Mengapa Masih Terjadi?

Liputan Khusus

BCHANNEL NEWS – Banjir di Bekasi bukanlah fenomena baru. Bahkan, sejarah mencatat bahwa bencana ini telah terjadi sejak 1.500 tahun lalu, saat wilayah ini masih berada di bawah kekuasaan Kerajaan Tarumanagara. Fakta ini semakin menegaskan bahwa banjir di Bekasi bukan hanya persoalan cuaca ekstrem, tetapi juga masalah pengelolaan lingkungan dan tata kota yang terus berulang.

Dulu, Raja Purnawarman, pemimpin Kerajaan Tarumanagara, sudah mengambil langkah-langkah untuk mencegah banjir. Namun, mengapa setelah berabad-abad permasalahan ini masih terjadi? Mari kita telusuri jejak sejarah dan membandingkannya dengan kondisi Bekasi saat ini.

Jejak Sejarah: Raja Purnawarman dan Upaya Pencegahan Banjir di Bekasi

Menurut catatan sejarah, Kerajaan Tarumanagara adalah salah satu kerajaan tertua di Nusantara yang berpusat di wilayah yang kini mencakup Jakarta, Bekasi, dan sekitarnya. Dalam Prasasti Tugu, yang ditemukan di Jakarta Utara, tertulis bahwa Raja Purnawarman melakukan proyek penggalian Sungai Candrabaga—yang sekarang dikenal sebagai Sungai Bekasi—untuk mengendalikan banjir dan meningkatkan irigasi pertanian.

Selain itu, Raja Purnawarman juga memperbaiki dan menggali beberapa saluran air lainnya agar sistem drainase lebih baik. Langkah ini mencerminkan bahwa sejak dahulu kala, pengelolaan air telah menjadi perhatian utama bagi pemimpin wilayah ini.

Namun, seiring berjalannya waktu, warisan sistem pengelolaan air ini tampaknya tidak lagi terjaga dengan baik. Bekasi yang dulunya memiliki sistem sungai yang dikelola dengan baik, kini justru mengalami banjir parah setiap musim hujan.

Kondisi Bekasi Saat Ini: Mengapa Banjir Masih Terjadi?

Meski sudah ada upaya pencegahan sejak zaman kerajaan, banjir tetap menjadi masalah utama di Bekasi. Apa penyebabnya?

Alih Fungsi Lahan yang Tidak Terkendali

Bekasi mengalami urbanisasi besar-besaran dalam beberapa dekade terakhir. Banyak area yang dulunya merupakan daerah resapan air dan sawah kini berubah menjadi permukiman padat, pusat perbelanjaan, dan kawasan industri.

Ketika tanah yang seharusnya menyerap air hujan berubah menjadi beton dan aspal, air tidak dapat meresap ke dalam tanah. Akibatnya, saat hujan deras turun, air meluap dan menyebabkan genangan yang lebih cepat dan luas.

Sistem Drainase yang Tidak Memadai

Dulu, sungai dan kanal di Bekasi memiliki kapasitas yang cukup untuk menampung aliran air. Namun sekarang, banyak sungai mengalami pendangkalan akibat sedimentasi dan sampah. Aliran air pun tersumbat, menyebabkan banjir lebih sering terjadi.

Selain itu, banyak kawasan perkotaan di Bekasi yang memiliki sistem drainase yang kurang optimal. Saat hujan deras, air yang tidak bisa langsung dialirkan ke sungai atau kanal akhirnya menggenang di jalanan dan pemukiman warga.

Perubahan Iklim dan Intensitas Hujan yang Meningkat

Secara global, perubahan iklim telah menyebabkan peningkatan curah hujan yang lebih tinggi dari biasanya. Bekasi, yang sudah memiliki masalah pengelolaan air, semakin kewalahan menghadapi tingginya volume air hujan.

Hujan yang turun dalam waktu singkat dengan intensitas tinggi membuat sistem drainase perkotaan tidak mampu mengalirkan air dengan cepat. Akibatnya, banjir pun tak terhindarkan.

Kurangnya Perawatan Sungai dan Kanal

Berbeda dengan zaman Raja Purnawarman yang melakukan penggalian dan perawatan sungai secara berkala, saat ini banyak sungai dan kanal di Bekasi yang tidak terawat. Sampah rumah tangga yang dibuang ke sungai memperparah kondisi ini.

Jika sistem pengelolaan air tetap dibiarkan tanpa perawatan yang baik, maka banjir di Bekasi akan terus terjadi setiap tahunnya.

Belajar dari Sejarah: Apa yang Bisa Dilakukan?

Sejarah telah memberikan pelajaran bahwa banjir bukan sekadar fenomena alam, melainkan dampak dari pengelolaan lingkungan yang tidak tepat. Maka, sudah saatnya kita kembali menata Bekasi agar tidak terus menerus dilanda banjir.

Berikut beberapa solusi yang bisa diterapkan berdasarkan pendekatan sejarah dan teknologi modern:

1. Restorasi Sungai dan Kanal

Sungai-sungai di Bekasi harus dikembalikan ke fungsinya yang semula. Pemerintah daerah harus melakukan pengerukan sungai secara berkala, membersihkan sampah, dan memastikan aliran air tidak tersumbat.

2. Pengembangan Ruang Terbuka Hijau dan Daerah Resapan

Lahan-lahan yang tersisa harus dijaga agar tetap menjadi area hijau dan daerah resapan air. Jika terus terjadi alih fungsi lahan tanpa kontrol, maka genangan air akan semakin sulit dihindari.

3. Penerapan Teknologi dalam Pengelolaan Air

Selain mengandalkan sistem kanal dan drainase, perlu ada inovasi baru dalam mengelola air, seperti:

Pembuatan sumur resapan di kawasan perkotaan

Penerapan konsep kota spons (sponge city) yang memungkinkan air hujan terserap lebih baik

Penggunaan sistem pengendalian banjir berbasis teknologi, seperti sensor curah hujan dan pintu air otomatis

4. Edukasi dan Kesadaran Masyarakat

Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dalam mengatasi banjir. Kesadaran masyarakat juga sangat penting, terutama dalam hal:

  • Tidak membuang sampah ke sungai
  • Memanfaatkan teknologi ramah lingkungan untuk pengelolaan air
  • Berpartisipasi dalam program penghijauan dan pembersihan sungai

Penutup: Waktunya Berubah, Agar Tidak Terjebak dalam Sejarah yang Sama

Banjir di Bekasi bukanlah peristiwa baru. Sejak 1.500 tahun lalu, Raja Purnawarman telah mengingatkan akan pentingnya menjaga sistem air untuk mencegah bencana ini.

Namun, perubahan zaman dan ketidaktepatan dalam pengelolaan tata ruang telah menyebabkan masalah ini tetap terjadi. Alih fungsi lahan, sistem drainase yang buruk, serta perubahan iklim menjadi faktor utama yang membuat Bekasi terus mengalami banjir setiap tahunnya.

Apa yang harus dilakukan?

  • Belajar dari sejarah dan mengembalikan sungai ke fungsi aslinya
  • Meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat dalam menjaga lingkungan
  • Mengadopsi teknologi modern dalam pengelolaan air

Jika tidak ada perubahan signifikan dalam tata kelola lingkungan, maka 1.500 tahun ke depan, Bekasi masih akan mengalami banjir. Apakah kita ingin terus mengulang sejarah, atau mulai mengambil langkah nyata?

Saatnya bertindak sebelum terlambat! 

Artikel ini diadaptasi dari CNBC Indonesia – Entrepreneur. Untuk membaca artikel asli, kunjungi:

🔗 CNBC Indonesia – Entrepreneur

#BanjirBekasi #LingkunganHidup #TataKota #BelajarDariSejarah #BChannelNews

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *